Bab 1 – Fungsi
Bahasa
Bahasa bersifat
sangat luwes dan manipulatif.
Fungsi bahasa
digunakan berdasarkan kebutuhan seseorang, yakni
(1) sebagai alat untuk
mengekspresikan diri,
(2) sebagai alat untuk berkomunikasi,
(3) sebagai alat
untuk mengadakan integrasi dan beradaptasi sosial dalam lingkungan atau situasi
tertentu,
(4) sebagai alat untuk melakukan kontrol sosial.
Bahasa sebagai
alat untuk mengekspresikan diri
Kita dapat menggunakan
bahasa untuk mengekspresikan diri juga untuk berkomunikasi. Jadi, kita dapat
menulis untuk mengekspresikan diri kita atau untuk mencapai turjuan tertentu.
Pada saat menggunakan bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan diri, si
pemakai bahasa tidak perlu mempertimbangkan pendengarnya, pembacanya, atau
khalayak sasarannya. Ia menggunakan bahasa hanya untuk kepentingan pribadi.
Bahasa sebagai alat
untuk berkomunikasi
Penggunaan bahasa
sebagai alat berkomunikasi sudah memiliki tujuan tertentu. Kita ingin
menyampaikan gagasan yang dapat diterima oleh orang lain. Kita ingin membuat
orang lain yakin terhadap pandangan kita dan dalam hal ini kita ingin
memengaruhi orang lain. Sehingga kita menggunakan bahasa dengan memperhatikan
kepentingan dan kebutuhan khalayak sasaran kita
Bahasa sebagai
alat integrasi dan adaptasi sosial
Bahasa juga berfungsi
untuk menunjukkan identitas diri. Melalui bahasa, kita dapat menunjukkan sudut
pandang kita, pemahaman kita atas suatu hal, asal-usul bangsa dan negara kita,
pendidikan kita, bahkan sifat kita. Bahasa menjadi cermin diri kita, baik
secara diri sendiri maupun sebagai bangsa.
Sebagai alat integrasi
bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa persatuan. Dengan demikian, berbagai
budaya, bahasa, adat istiadat yang tersebar di Indonesia terkait oleh bahasa
persatuan, yaitu bahasa Indonesia. Sebagai alat adaptasi sosial, bahasa
dipergunakan dipergunakan pada saat kita beradaptasi kepada lingkungan sosial
terentu, tergantung pada situasi dan kondisi yang kita hadapi.
Bahasa sebagai
alat kontrol sosial.
Fungsi bahasa sebagai
alat kontrol sosial dapat diterapkan pada diri kita sendiri atau kepada
masyarakat. Berbagai penerapan, informasi, maupun pendidikan disampaikan
melalui bahasa. Salah satu contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial
adalah basa dalam buku-buku pelajaran, dan buku-buku instruksi. Sebagai kontrol
sosial bahasa memberikan kepada kita cara untuk memperoleh pandangan baru,
sikap baru, perilaku dan tindakan yang baik serta menyimak dan mendengarkan
pandangan orang lain mengenai suatu hal.
·
Pengertian
Bahasa Indonesia yang baik dan benar harus ditinjau dari dua aspek, yaitu aspek
bahasa yang baik, dan aspek bahasa yang benar.
1.
Bahasa Indonesia
yang baik
Penggunaan bahasa
dengan baik menakankan pada aspek komunikatif bahasa. Dalam hal ini kita harus
memperhatikan sasaran bahasa, kepada siapa kita akan menyampaikan bahasa kita.
Oleh karena itu, unsur usia, pendidikan, pekerjaan, status sosial, lingkungan
sosial, dan sudut pandang khalayak sasaran tidak boleh diabaikan. Berkaitan
juga dengan aspek komunikasi, maka unsur-unsur komunikasi menjadi penting,
yaitu pengirim pesan, isi pesan, media penyampaian pesan, dan penerima pesan.
Pengirim pesan adalah
orang yang akan menyampaikan suatu gagasan kepada penerima pesan, yaitu
pendengar atau pembacanya, tergantung pada media yang digunakannya. Sedangkan
isi pesan adalah gagasan yang ingin disampaikan kepada penerima pesan.
2.
Bahasa Indonesia
yang benar
Bahasa yang benar
berkaitan dengan aspek kaidah, yaitu peraturan bahasa. Berkaitan dengan
peraturan bahasa, ada 4 hal yang harus diperhatikan, yaitu masalah tata bahasa,
pilihan kata, tanda baca dan ejaan. Pengetahuan atas tata bahasa dan pilihan
kata harus dimiliki dalam penggunaan bahasa lisan dan tulisan. Tanpa
pengetahuan tata bahasa yang memadai, kita akan mengalami kesulitan dalam
bermain bahasa. Sedangkan pengetahuan atas tanda baca dan ejaan harus dimiliki
dalam penggunaan bahasa tulis.
·
Berbahasa dengan
baik dan benar tidak hanya menekankan kebenaran dalam hal tata bahasa, melainkan
juga memperhatikan aspek komunikatif. Bahasa yang komunikatif tidak selalu
menggunakan bahasa formal. Sebaliknya, penggunaan bahasa formal tidak selalu
berarti bahwa bahasa itu baik dan benar. Kita mengugnakan ragam bahasa yang
serasi dengan sasarannya serta mengikuti juga kaidah bahasa yang benar.
·
Ragam bahasa
adalah variasi bahasa yang terjadi karena pemakaian bahasa. Ragam bahasa dibagi
menjadi ragam bahasa berdasarkan media pengantarnya, dan ragam bahasa
berdasarkan pemakaiannya.
1.
Ragam bahasa
berdasarkan media pengantarnya.
Penggunaan bahasa berdasarkan media
pengantarnya atau sasarannya terbagi atas ragam lisan dan ragam tulis.
2.
Ragam bahasa
berdasarkan situasi pemakaiannya.
Penggunaan bahasa berdasarkan situasi
pemakaiannya dibedakan menjadi ragam formal, ragam nonformal, dan ragam
semiformal. Bahasa ragam formal memiliki sifat kemantapan berupa kaidah dan
aturan tetap yang bersifat tidak kaku. Ragam formal tetap luwes sehingga
memungkinkan perubahan di bidang kosakata, peristilahan, serta mengizinkan
perkembangan berbagai jenis laras yang diperlukan dalam kehidupan modern.
Pembedaan antara ragam formal, nonformal, dan
semiformal dilakukan berdasarkan: (1) topic yang sedang dibahas, (2) hubungan
antar pembaca, (3) medium yang digunakan, (4) lingkungan, dan (5) situasi saat
pembicaraan terjadi.
Ada lima ciri yang digunakan untuk membedakan ragam
formal dan ragam nonformal, yaitu:
1.
Penggunaan kata
sapaan dan kata ganti
Dalam ragam formal, biasanya kata sapaan dan kata
ganti menggunakan kata Bapak, Ibu, Saudara, Anda atau kita akan menyertakan
penyebutan jabatan, gelar, atau pangkat. Penggunaan untuk menyebut diri sendiri
menggunakan kata saya atau aku.
Sementara dalam ragam nonformal, yaitu untuk menyapa
teman atau rekan sejawat, kita cukup menyebut namanya atau kita menggunakan
bahasa daerah. Penggunaan kata ganti aku, menggunakan kata gue, atau ogut.
2.
Penggunaan kata
tertentu
Dalam penggunaan ragam nonformal akan sering muncul
kata nggak, bakal, gede, udahan, kegedean, cewek, bokap, ortu. Dalam ragam
nonformal juga sering muncul bentuk penekanan seperti sih, kok, deh, lho. Dalam
ragam formal, bentuk-bentuk ini tidak akan digunakan.
3.
Penggunaan
imbuhan
Dalam ragam formal kita harus menggunakan imbuhan
secara jelas dan teliti. Hanya pada kalimat perintah kita dapat menghilangkan
imbuhan dalam kata kerjanya (verba). Dalam ragam nonformal, imbuhan seringkali
ditanggalkan. Misalnya, pake untuk memakai, nurunin untuk menurunkan.
4.
Penggunaan kata
sambung atau konjungsi dan kata depan atau preposisi.
Dalam ragam nonformal, kata sambung dan kata depan
dihilangkan sehingga dapat menganggu kejelasan kalimat. Dalam ragam semiformal
seperti laras jurnalistik kedua kata ini sering dihilangkan.
5.
Penggunaan
fungsi yang lengkap
Dalam ragam nonformal, predikat kalimat sering
dihilangkan. Biasanya pelepasan fungsi terjadi jika kita menjawab pertanyaan
orang. Bagian dalam kalimat dihilangkan karena situasi sudah dianggap cukup
mendukung pengertian
6.
Intonasi
Intonasi hanya dapat ditemukan dalam ragam lisan dan
tidak terwujud dalam ragam tulis.