Thursday, July 25, 2019

Fungsi Bahasa, dan Pengertian Bahasa Indonesia yang baik dan benar


Bab 1 – Fungsi Bahasa

Bahasa bersifat sangat luwes dan manipulatif.
Fungsi bahasa digunakan berdasarkan kebutuhan seseorang, yakni 
(1) sebagai alat untuk mengekspresikan diri, 
(2) sebagai alat untuk berkomunikasi, 
(3) sebagai alat untuk mengadakan integrasi dan beradaptasi sosial dalam lingkungan atau situasi tertentu, 
(4) sebagai alat untuk melakukan kontrol sosial.


Bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan diri

Kita dapat menggunakan bahasa untuk mengekspresikan diri juga untuk berkomunikasi. Jadi, kita dapat menulis untuk mengekspresikan diri kita atau untuk mencapai turjuan tertentu. Pada saat menggunakan bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan diri, si pemakai bahasa tidak perlu mempertimbangkan pendengarnya, pembacanya, atau khalayak sasarannya. Ia menggunakan bahasa hanya untuk kepentingan pribadi.

 Bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi
Penggunaan bahasa sebagai alat berkomunikasi sudah memiliki tujuan tertentu. Kita ingin menyampaikan gagasan yang dapat diterima oleh orang lain. Kita ingin membuat orang lain yakin terhadap pandangan kita dan dalam hal ini kita ingin memengaruhi orang lain. Sehingga kita menggunakan bahasa dengan memperhatikan kepentingan dan kebutuhan khalayak sasaran kita


  Bahasa sebagai alat integrasi dan adaptasi sosial
Bahasa juga berfungsi untuk menunjukkan identitas diri. Melalui bahasa, kita dapat menunjukkan sudut pandang kita, pemahaman kita atas suatu hal, asal-usul bangsa dan negara kita, pendidikan kita, bahkan sifat kita. Bahasa menjadi cermin diri kita, baik secara diri sendiri maupun sebagai bangsa.
Sebagai alat integrasi bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa persatuan. Dengan demikian, berbagai budaya, bahasa, adat istiadat yang tersebar di Indonesia terkait oleh bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia. Sebagai alat adaptasi sosial, bahasa dipergunakan dipergunakan pada saat kita beradaptasi kepada lingkungan sosial terentu, tergantung pada situasi dan kondisi yang kita hadapi.

   Bahasa sebagai alat kontrol sosial.
Fungsi bahasa sebagai alat kontrol sosial dapat diterapkan pada diri kita sendiri atau kepada masyarakat. Berbagai penerapan, informasi, maupun pendidikan disampaikan melalui bahasa. Salah satu contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial adalah basa dalam buku-buku pelajaran, dan buku-buku instruksi. Sebagai kontrol sosial bahasa memberikan kepada kita cara untuk memperoleh pandangan baru, sikap baru, perilaku dan tindakan yang baik serta menyimak dan mendengarkan pandangan orang lain mengenai suatu hal.


·         Pengertian Bahasa Indonesia yang baik dan benar harus ditinjau dari dua aspek, yaitu aspek bahasa yang baik, dan aspek bahasa yang benar.

1.      Bahasa Indonesia yang baik
Penggunaan bahasa dengan baik menakankan pada aspek komunikatif bahasa. Dalam hal ini kita harus memperhatikan sasaran bahasa, kepada siapa kita akan menyampaikan bahasa kita. Oleh karena itu, unsur usia, pendidikan, pekerjaan, status sosial, lingkungan sosial, dan sudut pandang khalayak sasaran tidak boleh diabaikan. Berkaitan juga dengan aspek komunikasi, maka unsur-unsur komunikasi menjadi penting, yaitu pengirim pesan, isi pesan, media penyampaian pesan, dan penerima pesan.
Pengirim pesan adalah orang yang akan menyampaikan suatu gagasan kepada penerima pesan, yaitu pendengar atau pembacanya, tergantung pada media yang digunakannya. Sedangkan isi pesan adalah gagasan yang ingin disampaikan kepada penerima pesan.

2.      Bahasa Indonesia yang benar
Bahasa yang benar berkaitan dengan aspek kaidah, yaitu peraturan bahasa. Berkaitan dengan peraturan bahasa, ada 4 hal yang harus diperhatikan, yaitu masalah tata bahasa, pilihan kata, tanda baca dan ejaan. Pengetahuan atas tata bahasa dan pilihan kata harus dimiliki dalam penggunaan bahasa lisan dan tulisan. Tanpa pengetahuan tata bahasa yang memadai, kita akan mengalami kesulitan dalam bermain bahasa. Sedangkan pengetahuan atas tanda baca dan ejaan harus dimiliki dalam penggunaan bahasa tulis.

·         Berbahasa dengan baik dan benar tidak hanya menekankan kebenaran dalam hal tata bahasa, melainkan juga memperhatikan aspek komunikatif. Bahasa yang komunikatif tidak selalu menggunakan bahasa formal. Sebaliknya, penggunaan bahasa formal tidak selalu berarti bahwa bahasa itu baik dan benar. Kita mengugnakan ragam bahasa yang serasi dengan sasarannya serta mengikuti juga kaidah bahasa yang benar.

·         Ragam bahasa adalah variasi bahasa yang terjadi karena pemakaian bahasa. Ragam bahasa dibagi menjadi ragam bahasa berdasarkan media pengantarnya, dan ragam bahasa berdasarkan pemakaiannya.

1.      Ragam bahasa berdasarkan media pengantarnya.
Penggunaan bahasa berdasarkan media pengantarnya atau sasarannya terbagi atas ragam lisan dan ragam tulis.

2.      Ragam bahasa berdasarkan situasi pemakaiannya.
Penggunaan bahasa berdasarkan situasi pemakaiannya dibedakan menjadi ragam formal, ragam nonformal, dan ragam semiformal. Bahasa ragam formal memiliki sifat kemantapan berupa kaidah dan aturan tetap yang bersifat tidak kaku. Ragam formal tetap luwes sehingga memungkinkan perubahan di bidang kosakata, peristilahan, serta mengizinkan perkembangan berbagai jenis laras yang diperlukan dalam kehidupan modern.

Pembedaan antara ragam formal, nonformal, dan semiformal dilakukan berdasarkan: (1) topic yang sedang dibahas, (2) hubungan antar pembaca, (3) medium yang digunakan, (4) lingkungan, dan (5) situasi saat pembicaraan terjadi.
Ada lima ciri yang digunakan untuk membedakan ragam formal dan ragam nonformal, yaitu:

1.      Penggunaan kata sapaan dan kata ganti
Dalam ragam formal, biasanya kata sapaan dan kata ganti menggunakan kata Bapak, Ibu, Saudara, Anda atau kita akan menyertakan penyebutan jabatan, gelar, atau pangkat. Penggunaan untuk menyebut diri sendiri menggunakan kata saya atau aku.
Sementara dalam ragam nonformal, yaitu untuk menyapa teman atau rekan sejawat, kita cukup menyebut namanya atau kita menggunakan bahasa daerah. Penggunaan kata ganti aku, menggunakan kata gue, atau ogut.

2.      Penggunaan kata tertentu
Dalam penggunaan ragam nonformal akan sering muncul kata nggak, bakal, gede, udahan, kegedean, cewek, bokap, ortu. Dalam ragam nonformal juga sering muncul bentuk penekanan seperti sih, kok, deh, lho. Dalam ragam formal, bentuk-bentuk ini tidak akan digunakan.

3.      Penggunaan imbuhan
Dalam ragam formal kita harus menggunakan imbuhan secara jelas dan teliti. Hanya pada kalimat perintah kita dapat menghilangkan imbuhan dalam kata kerjanya (verba). Dalam ragam nonformal, imbuhan seringkali ditanggalkan. Misalnya, pake untuk memakai, nurunin untuk menurunkan.

4.      Penggunaan kata sambung atau konjungsi dan kata depan atau preposisi.
Dalam ragam nonformal, kata sambung dan kata depan dihilangkan sehingga dapat menganggu kejelasan kalimat. Dalam ragam semiformal seperti laras jurnalistik kedua kata ini sering dihilangkan.

5.      Penggunaan fungsi yang lengkap
Dalam ragam nonformal, predikat kalimat sering dihilangkan. Biasanya pelepasan fungsi terjadi jika kita menjawab pertanyaan orang. Bagian dalam kalimat dihilangkan karena situasi sudah dianggap cukup mendukung pengertian

6.      Intonasi
Intonasi hanya dapat ditemukan dalam ragam lisan dan tidak terwujud dalam ragam tulis.

No comments:

Post a Comment