Wednesday, September 14, 2022

Jenis dan Sumber Data dalam Penelitian

 JENIS DAN SUMBER DATA

 

Menurut sifatnya, jenis data dan sumbernya terbagi menjadi:

1.    Data kualitatif adalah data bukan angka namun diangkakan. Misalnya kuesioner pertanyaan tentang kualitas pelayanan sebuah rumah sakit, gaya kepemimpinan.

2.    Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka, misalnya harga saham, profitabilitas, aktiva, hutang.

 

Menurut sumbernya, jenis data dan sumbernya terbagi menjadi:

1.    Data internal adalah data yang berasal dari bagian dalam perusahaan yang menggambarkan perusahaan tersebut. Misalnya jumlah modal perusahaan, jumlah karyawan perusahaan.

2.    Data eksternal adalah data yang berasal dari luar suatu perusahaan yang dapat menggambarkan kemungkinan yang akan mempengaruhi hasil kerja perusahaan. Misalnya daya beli konsumen memengaruhi jumlah pendapatan perusahaan.

 

Menurut cara memperolehnya, jenis dan sumber data terbagi atas:

1.    Data primer adalah data yang diperoleh dari responden melalui kuesioner, kelompok fokus, dan panel, atau data hasil wawancara peneliti dengan narasumber. Data yang diperoleh dari data primer ini harus diolah lagi. Sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data.

2.    Data sekunder adalah data yang diperoleh dari catatan, buku, dan majalah berupa laporan keuangan publikasi perusahaan, laporan pemerintah, artikel, buku-buku sebagai teori, majalah dan lain sebagainya. Data yang diperoleh dari data sekunder tidak perlu diolah lagi. Sumber yang tidak langsung memberikan data pada pengumpul data.

 

Menurut waktu pengumpulannya, jenis dan sumber data terbagi atas:

1.    Data cross section, yaitu data yang dapat terdiri dari satu atau lebih variabel dalam waktu yang sama, misalnya data profitabilitas perusahaan go public.

2.    Data berkala (time series data) atau data runtut waktu yaitu rangkaian nilai yang diambil pada waktu yang berbeda. Data tersebut dapat dikumpulkan secara berkala pada interval waktu tertentu. Misalnya harian, mingguan, bulanan, atau tahunan.

3.    Pooled data  merupakan kombinasi antara data time series dan data cross section. Misalnya data 3 variabel pada 10 perusahaan selama 4 tahun dari tahun 2008-2011.

4.    Data panel adalah bentuk khusus dari pooled data. Data panel juga dikenal dengan istilah longitudinal atau micropanel data. Tipe data panel adalah pooled data dengan unit cross sectional yang sama.

Teknik Sampling Penelitian

 TEKNIK SAMPLING

            Teknik Sampling menurut Sugiono (2006) merupakan teknik pengambilan sampel untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian. Terdapat 2 teknik sampling yang digunakan, yaitu 1) probability sampling, dan 2) non probability sampling.

1.    Probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Teknik ini terdiri atas:

a.    Simple random sampling yaitu pengambilan anggota sampel dan populasi yang dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada di dalam populasi tersebut. Hal ini dilakukan apabila populasi dianggap homogen.

b.    Proportionate Stratified random sampling merupakan teknik yang digunakan apabila populasi mempunyai anggota/unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional.

c.    Cluster sampling atau sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel apabila objek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas, misalnya penduduk dari suatu negara, provinsi, atau kabupaten. Untuk menentukan penduduk mana yang akan dijadikan sumber data, maka pengambilan sampelnya berdasarkan daerah populasi yang telah ditetapkan. Teknik sampling daerah sering digunakan melalui dua tahap, yaitu tahap pertama menentukan sampel daerah dan tahap berikutnya menentukan orang-orang yang ada di daerah tersebut secara sampling juga.

2.    Nonprobability Sampling merupakan teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang/kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel.

a.    Sampling sistematis à teknik pengambilan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut. Misalnya diambil nomor urut ganjil saja.

b.    Sampling kouta à teknik menentukan sampel dari populasi yang memiliki ciri-ciri tertentu sampai jumlah kouta yang diinginkan.

c.    Sampling insidental à teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan/insidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, jika orang tersebut cocok sebagai sumber data.

d.    Sampling purposive à teknik penentuan sampel dengan pertimbangan atau kriteria-kriteria tertentu.

e.    Sampling jenuh à teknik penentuan sampel apabila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Sering digunakan apabila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang atau penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil.

f.     Snowball sampling à teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian membesar. Ibarat bola salju yang menggelinding yang lama-lama menjadi besar. Dalam penentuan sampel ini, pertama-tama dipilih satu atau dua orang, tetapi karena dengan dua orang ini belum merasa lengkap terhadap data yang diberikan, maka peneliti dapat melengkapi data yang diberikan oleh dua orang sebelumnya. Begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel semakin banyak.

Tuesday, September 13, 2022

PERAN STATISTIK DALAM PENELITIAN

 

PERAN STATISTIK DALAM PENELITIAN

            Peran statistik dalam penelitian adalah sebagai alat analisis, dan alat untuk menguji validitas dan realibilitas instrumen (apabila peneliti menggunakan teknik angket atau kuesioner dalam melakukan pengambilan data), sebagai alat untuk menyajikan gambar, tabel ataupun grafik serta sebagai alat untuk menghitung besarnya anggota sampel dalam teknik sampling.

 

A. Data dalam Penelitian

            Data dalam penelitian merupakan sekumpulan informasi yang diperoleh dari lapangan dan digunakan untuk bahan penelitian. Data dalam statistik dibagi menjadi 2 yaitu, data kualitatif dan data kuantitatif.

1.    Data kualitatif adalah data hasil kategori (pemberian kode) untuk isi data yang berupa kata atau dapat didefinisikan sebagai data bukan angka tetapi diangkakan. Misalnya seperti jenis kelamin, status, dsb. Data kualitatif tidak dapat dilakukan operasi matematika, misalnya penjumlahan, pengurangan, perkalian, atau pembagian. Biasanya diambil dari penyebaran kuesioner pada responden sehingga harus dilakukan pengujian reliabilitas dan validitas. Data kualitatif dibagi menjadi 2 yaitu:

a.    Data Nominal à data yang paling rendah dalam level pengukuran data, yaitu data dalam bentuk kategori tetapi tidak ada tingkatannya. Misalnya jenis kelamin ada 2 yaitu wanita dan pria, maka dikategorikan dalam bentuk angka misalnya 1 adalah wanita dan 2 adalah pria. Dalam hal ini semua data kategori dianggap setara.

b.    Data Ordinal à data yang memiliki level lebih tinggi dari data nominal. Apabila dalam data nominal semua data kategori dianggap setara, maka pada data ordinal ada tingkatannya. Misalnya tanggapan responden jika 1 adalah sangat tidak setuju, 2 adalah tidak setuju, 3 adalah netral, 4 adalah setuju, dan 5 adalah sangat setuju.

2.    Data kuantitatif adalah data berupa angka dalam arti sebenarnya, dan berbagai operasi matematika dapat dilakukan pada data kuantitatif. Data kuantitatif dapat dibagi menjadi 2, yaitu data interval dan data rasio.

a.    Data interval à memiliki tingkat lebih tinggi dari data ordinal. Dapat bertingkat urutannya, serta dapat diukur atau dikuantitatifkan. Misalnya IPK mahasiswa. Dalam data interval tersebut tidak mengenal nilai nol yang absolut. Ataupun suhu, 0 derajat celcius tidak mengartikan bahwa tidak ada suhunya.

b.    Data rasio à memiliki tingkat pengukuran paling tinggi dari antara jenis data lainnya. Data rasio adalah data bersifat angka dalam arti sesungguhnya (bukan kategori) dan dapat dioperasikan dalam matematika. Perbedaan dengan data interval adalah bahwa data rasio memiliki titik nol dalam arti yang sesungguhnya. Misalnya penjualan baju di toko pakaian sejumlah 3.000 potong terjual. Jika penjualan 0 berarti mengartikan bahwa tidak ada satupun baju yang terjual.

 

B. Macam-macam Statistik untuk Alat Analisis

            Pengujian statistik untuk alat analisis yang digunakan dalam penelitian dibagi menjadi:

1.    Statistik Deskriptif à berguna untuk menggambarkan berbagai karakteristik data yang berasal dari suatu sampel. Statistik deskriptif misalnya rata-rata (mean), median, modus, presentil, desil, kuartil, varians, dan standar deviasi (simpangan baku).

2.    Statistik Inferensial/Induktif à berguna untuk membuat berbagai inferensi terhadap sekumpulan data yang berasal dari suatu sampel. Tindakan inferensi tersebut seperti melakukan prakiraan, peramalan, pengambilan keputusan dadri dua variabel atau lebih. Statistik inferensial dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu: Statistik parametrik dan statistik non parametrik.

 

2.1. Statistik Parametrik dapat digunakan dengan syarat data yang digunakan berdistribusi normal. Sehingga sebelum menentukan pengujian yang akan dipakai maka dilakukan pengujian normalitas terlebih dahulu. Pengujian yang digunakan dalam statistik parametrik adalah:

a.    Uji perbedaan à diuji apakah sebuah sampel mempunyai perbedaan nyata dengan sampel yang lain. Misalnya menggunakan uji independent sample t test, paired sample t test, one sample t test. Misalnya: Analisis Perbedaan Detak Jantung sebelum dan sesudah merokok studi kasus di PT A.

b.    Uji Hubungan à diuji apakah dua variabel yang ada memiliki hubungan atau kolerasi. Menggunakan kolerasi pearson (data kuantitatif). Contoh: Analisis hubungan berat badan ibu hamil dengan berat badan bayi yang dilahirkan.

c.    Analisis pengaruh à diuji apakah dua variabel atau lebih memiliki pengaruh. Uji yang digunakan adalah regresi, dan regresi ada 2 yaitu:

                                          i.    Regresi sederhana terdiri atas satu variabel dependen dan satu variabel independen. Contoh: pengaruh motivasi kerja terhadap prestasi karyawan.

                                         ii.    Regresi linear berganda terdiri atas satu variabel dependen dan dua atau lebih variabel independen. Contoh: Pengaruh motivasi kerja, kepuasan kerja terhadap prestasi karyawan.

 

2.2. Statistik Non Parametrik digunakan dalam kondisi penelitian tertentu yaitu data pada sampel yang tidak berdistribusi normal, atau jumlah sampel yang kecil (< 30 sampel). Contoh pengujiannya adalah Uji Sign, Uji Mann Whitney, Uji Friedman, Uji Kruskal Wallis

Thursday, September 30, 2021

Laras Bahasa


·         Laras Bahasa adalah kesesuaian antara bahasa dan pemakaiannya. Dalam hal ini berbagai laras, seperti laras iklan, laras lagu, laras ilmiah, laras ilmiah popular, laras feature, laras komik, laras sastra (yang terdiri dari laras cerpen, laras puisi, laras novel, dsb). Setiap laras memiliki cirinya dan gayanya tersendiri. Setiap laras dapat disampaikan secara lisan atau tulisan dan dalam bentuk formal, semi-formal, atau nonformal. Oleh karena itu, dalam menulis kita harus menguasai berbagai laras agar tepat mengenai sasaran.

·         Laras ilmiah harus selalu menggunakan ragam formal. Hal ini lah yang membedakan laras ilmiah dan laras lainnya. Persyaratan di atas mengakibatkan bahwa laras ilmiah harus menggunakan:

1.      Penggunaan kata sapaan dan kata ganti yang resmi, seperti Saudara atau Anda.
2.      Penggunaan istilah bagi bidang tertentu dan tidak boleh digunakan bentuk fatis (sih, kok, dong, dan sebagainya).
3.      Penggunaan imbuhan harus lengkap.
4.      Penggunaan kata sambung (konjungsi) harus jelas dan logis.
5.      Penggunaan fungsi yang lengkap (artinya, kalimat harus merupakan kalimat yang lengkap).
·         Karya sastra merupakan ekspresi diri yang dibuat oleh pengarang yang dihasilkan dari imajinasi pengarang. Hasil karyanya merupakan hasil rekaannya sendiri berdasarkan realitas di sekelilingnya. Oleh karena itu, seorang penyusun karya sastra disebut seorang pengarang. Seorang pengarang merangkaikan realitas kehidupan dalam sebuah tulisan.
·         Karya tulis ilmiah merupakan hasil rangkaian fakta yang merupakan hasil pemikiran, gagasan, peristiwa, gejala dan bahan informasi menjadi sebuah karangan yang utuh. Oleh karena itu, penyusun atau pembuat karya ilmiah disebut dengan penulis. Penulis akan merangkaikan berbagai fakta dalam sebuah tulisan.
·         Realistis berarti peristiwa yang diceritakan merupakan hal yang benar dan dapat dengan mudah dibuktikan kebenarannya, tetapi tidak secara langsung dialami oleh penulis. Data realistis dapat berasal dari dokumen, surat keterangan, press release, surat kabar atau sumber bacaan lain.
·         Faktual berarti rangkaian peristiwa atau percobaan yang diceritakan benar-benar dilihat, dirasakan, dan dialami oleh penulis.
·         Karya ilmiah memiliki tujuan dan khalayak sasaran yang jelas. Sehingga aspek komunikasi tetap memegang peranan utama, sehingga penyampaian yang komunikatif tetap harus dipikirkan. Selain itu penulis karya ilmiah juga menyampaikan hasil penelitiannya sehingga dapat meyakinkan pembaca akan kebenaran hasil yang telah ditemukan penulis di lapangan. Sebuah karya ilmiah harus secara jelas menyampaikan pesan kepada pembacanya.
·         Berikut ini merupakan persyaratan bagi sebuah tulisan dianggap sebagai karya ilmiah:
1.      Karya ilmiah menyajikan fakta objektif secara sistematis atau menyajikan aplikasi hukum alam pada situasi spesifik.
2.      Karya ilmiah ditulis secara cermat, tepat, benar, jujur, dan tidak bersifat terkaan. Dalam pengertian jujur terkandung sikap etika penulisan ilmiah, yakni penyebutan rujukan dan kutipan yang jelas.
3.      Karya ilmiah harus disusun secara sistematis,. Setiap langkah direncanakan secara terkendali, konseptual, dan procedural.
4.      Karya ilmiah menyajikan rangkaian sebab-akibat dengan pemahaman dan alasan yang indusif yang mendorong pembaca untuk menarik kesimpulan.
5.      Karya ilmiah mengandung pandangan yang disertai dukungan dan pembuktian berdasarkan suatu hipotesis.
6.      Karya ilmiah ditulis secara tulis, artinya karya ilmiah hanya mengandung kebenaran factual sehingga tidak akan memancing pertanyaan yang bernada keraguan. Penulis ilmiah tidak boleh memanipulasi fakta, tidak boleh bersifat ambisius dan berprasangka, serta penyajiannnya tidak boleh bersifat emotif.
7.      Karya ilmiah bersifat ekspositoris atau pemaparan. Jika pada akhirnya timbul kesan argumentative dan persuasive, hal itu ditimbulkan oleh karena penyusunan kerangka karangan yang cermat. Pembaca dibiarkan mengambil kesimpulan sendiri berupa pembenaran dan keyakinan akan kebenaran karya ilmiah tersebut.
·         3 Ciri Karya Ilmiah
1.      Harus tepat dan tunggal maknanya, tidak ramang nalar atau mendua makna. Contohnya adalah tidak banyak, kira-kira, banyak, sedikit.
2.      Harus secara tepat mendefinisikan setiap istilah, sifat, dan pengertian yang digunakan agar tidak menimbulkan karacuan atau keraguan.
3.      Harus singkat, berlandaskan ekonomi bahasa.
·         Ketentuan struktur atau format karangan merupakan kesepakatan sebagaimana tertuang dalam International Standardization Organization (ISO). Publikasi yang tidak mengikuti ketentuan yang tercantum dalam ISO memberikan kesan bahwa publikasi itu kurang valid sebagai terbiatan ilmiah.
·         ISO 5966 Menetapkan forma karya ilmiah terdiri atas:
1.      Judul
2.      Nama penulis
3.      Abstrak
4.      Kat  kunci yaitu definisi dari kata-kata
5.      Pendahuluan yang berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penulisan.
6.      Inti Tulisan yang berisi dari metode, hasil dan pembahasan.
7.      Kesimpulan dan saran
8.      Ucapan terima kasih
9.      Daftar pustaka.
·         Kosa kata adalah setiap bahasa yang memiliki perbendaharaan kata. Kosa kata adalah sejumlah kata yang bersifat dinamis dan digunakan oleh penuturnya untuk berkomunikasi, bekerjasama, dan mengidentifikasikan diri
·         Kosakata adalah semua kata yang terdapat dalam sebuah bahasa yang dikuasai oleh seseorang atau kata-kata yang digunakan oleh segolongan orang dari lingkungan yang sama dan digunakan dalam satu bidang ilmu pengetahuan yang disusun secara alfabetis disertai dengan batasan dan keterangannya.
·         Penutur melakukan pilihan atas kata-kata yang ingin digunakannya, bergantung pada berbagai faktor sosiologis yang melingkupinya. Seorang penutur menggunakan bahasanya untuk berkomunikasi, ia memilih dari kosakata yang dimilikinya sesuai dengan kepentingannya pada saat itu.
Masalah pilihan kata berkaitan dengan 4 hal berikut ini:
1.      Pilihan kata mencakup pengertian penggunaan kata-kata untuk menyampaikan suatu gagasan, pembentukan kelompok kata yang tepat, dan pemilihan gaya yang paling tepat untuk suatu situasi.
2.      Pilihan kata merupakan kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan.
3.      Pilihan kata merupakan kemampuan untuk menemukan kata yang sesuai situasi dan nilai rasa yang dimiliki oleh kelompok sasaran.
4.      Pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya mungkin oleh penguasaan sejumlah besar kosa kata atau perbendaharaan kata bahasa itu.
·         Ketepatan Pilihan kata berkaitan dengan kesanggupan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan yang tepat pada imajinasi pembaca atau pendengar seperti apa yang dipikirkan atau dirasakan oleh penulis atau pembicara.
·         Kesesuaian Pilihan Kata berkaitan dengan penggunaan kata untuk mengungkapkan gagasan dengan cara mencocokan dengan kesempatan dan lingkungan yang dihadapi.
·         Untuk dapat melakukan pelaksanaan ketepatan dan kesesuaian pilihan katak, seseorang harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam:
1.      Kata umum dan kata kahusus. Kata khusus adalah kata yang mengungkapkan makna secara lebih jelas. Kata khusus digunakan untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca dan membangkitkan sugesti dalam diri pembaca. Misalnya berjalan perlahan-lahan dengan tertatih ; orang miskin dengan gelandangan.
Kata umum adalah
2.      Kata Indria merupakan kata yang berkaitan dengan pancaindera. Kata ini menyatakan pengalaman yang diserap oleh pancaindera seperti penglihatan, pendengaran, peraba, perasa, dan penciuman. Kata Indria membantu kelancaran penulisan deskripsi secara akurat.
3.      Kata formal, semi formal, dan nonformal. Penggunaan kata ini berkaitan dengan siapa yang menjadi pembaca dan pendengar. Misalnya penggunaan kata ganti saya, aku, atau gue sangat bergantung pada situasi dan kepada siapa kita berbicara.
4.      Kata popular dan kata ilmiah : Ada sejumlah kata yang digunakan dalam komunikasi ilmiah misalnya dalam pertemuan resmi, pengajaran. Umumnya, kata-kata ilmiah ini diserap dari bahasa asing. Ada yang dicari dari padanan katanya dalam bahasa Indonesia, dan ada yang disesuaikan dengan struktur kata bahasa Indonesia.
5.      Jargon : Jargon adalah kata-kata teknis dalam suatu bidang ilmu tertenu dan seringkali bertumpang tindih dengan pengertian istilah. Jargon adalah bahasa atau kata yang khusus sekali sehingga harus diikuti oleh penjelasan arti kata tersebut. Misalnya operasi ketupat, dan operasi zebra.
6.      Kata percakapan : Bahasa percakapan tidak selalu identik dengan bahasa nonformal. Kata percakapan hanya digunakan dalam ragam lisan. Perbedaan laras jurnalistik dan laras iklan dari laras-laras lain adalah kedua laras ini menyajikan ragam lisan dalam bentuk ragam tulis. Akibatnya ada banyak kata percakapan yang digunakan dalam bentuk ini. Misalnya tapi seharusnya tetapi, bisa seharusnya dapat.
7.      Kata slang : Kata slang adalah kata-kata percakapanyang menjurus kea rah nonstandard yang disusun secara khas, seperti bahasa prokem atau bahasa gaul. Misalnya penggunaan bahasa benci untuk benar-benar  cinta. Kata slang mempunyai kelemahan yaitu hanya sedikit yang bertahan dan selalu menimbulkan ketidaksesuaian. Biasanya kata ini dibuat oleh anak muda.
8.      Idiom : bukan hanya peribahasa. Idiom adalah pola-pola bahasa/frase yang menyimpang dari kaidah dan makna bahasa yang umum dan makna gabungannya tidak dapat diterangkan melalui makna kata pembentuknya. Contoh, makan hati, banting tulang.
·         Pilihan kata sangat berkaitan pada laras yang dipilih dan pada tujuan penulisan. Karena setiap kata memiliki medan makna dengan corak, nuansa dan kekuatan yang berbeda-beda.
·         Kata adalah satuan tata bahasa terkecil yang bebas dan mempunyai makna. Bebas artinya satuan bahasa itu dapat berdiri sendiri tanpa terikat pada satuan bahasa yang lain. Wujud satuan itu bisa sebuah kata dasar, misalnya uang, kamu, hanya, yang, kursi. Dan dapat pula berupa satuan turunan, seperti terpaksa, peserta, berjuang, perjuangan, disebabkan.
·         Istilah adalah kata atau gabungan kata yang secara cermat mengungkapkan makna, konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas dalam bidang ilmu tertentu.
·         Hal yang membedakan kata dengan istilah adalah:
1.      Kata bersifat polisemantik artinya dapat memiliki banyak makna. Sedangkan istilah bersifat monosemantik artinya hanya memiliki satu arti. Contoh, kata asam. Sebagai kata asam berarti ‘masam seperti rasa cuka’, ‘menaruh rasa tidak senang’, atau ‘nama pohon’. Sedangkan sebagai istilah, asam bermakna ‘persenyawaan air dan oksida’.
2.      Kata terikat pada konteks artinya makna bergantung pada konteksa dan dapat berubah akibat konteksnya. Sedangkan istilah tidak bergantung pada konteks, maknanya bebas konteks, makna yang sama diperoleh pada saat berdiri sendiri maupun pada saat diletakkan dalam kalimat. Contoh kata jalan akan berubah jika diterapkan pada kalimat, ‘rumah saya di jalan Bendi’, ‘Jalan-jalan di Jakarta penuh lubang’, ‘saya jalan dari tempat kos ke kantor saya’, ‘kalau jala-jalan di Bali harus punya banyak uang’.
3.      Kata terikat pada konotasi sosial, sedangkan istilah tidak.
4.      Kata bersifat sangat loka, artinya kata terikat pada budaya tertentu. Sedangkan istilah bersifat internasional, artinya sedapat-dapatnya, bentuknya tidak jauh berbeda dari bentuk istilah dalam bahasa lain.
Penggunaan istilah terjadi melalui beberapa proses:
1.      Proses adopsi yaitu kata asing diambil langsung dan mejadi bahasa Indonesia (contohnya: bank, helm, unit, radio).
2.      Proses adaptasi yaitu menyesuaikan bahasa asing kedalam struktur bahasas Indonesia. Contohnya sistem, idealis, kolera, kubik.
3.      Proses terjemahan yaitu mencari padanannya dalam bahasa Indonesia. Contoh, segitiga-triangle, terpadu-integrated, jajak pendapat-poling, memantau-monitor.
Penggunaan istilah sering menjadi kata kunci dalam sebuah tulisan. Istilah menandai asal atau sumber bidang dari sebuah tulisan. Dengan penggunaan istilah tertentu pembaca akan menyesuaikan diri dengan materi yang tersaji dan dapat mengikuti proses yang dijelaskan dalam pedoman pembentukan istilah yang dikeluarkan oleh pusat bahasa.

Contoh Kata Pengantar untuk Makalah

                                                    KATA PENGANTAR

       Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat rahmat serta kasih-Nya hingga saat ini yang masih diberikan napas kehidupan dan anugerah akal, sehingga penulis dapat menyelesaikan pembuatan makalah ini, yang berjudul ‘Hak Asasi Manusia (HAM) dalam Negara Indonesia’.

       Makalah ini dibuat dengan tujuan agar masyarakat menjadi lebih sadar dan peka tentang pentingnya arti dari penegakkan hak asasi manusia. Harkat dan martabat manusia harus dijunjung tinggi sesuai dengan Pancasila sebagai dasar dalam berbangsa dan bernegara, serta dapat menanamkan sikap yang dapat mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila di dalam kehidupan bermasyarakat.

       Dalam penulisan makalah ini, penulis banyak mendapat bantuan dan bimbingan dari beberapa pihak. Oleh karena itu, Penulis juga ingin mengucapkan terimakasih kepada Drs. Darwis L Rampay, S.H., M.H., selaku dosen pengampu mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan.

       Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, masih banyak kekurangan dari metode penulisan maupun dari segi pembahasan materi. Sehubungan dengan itu, Penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun, sehingga di kemudian hari Penulis dapat menghasilkan makalah yang lebih baik. Harapan Penulis, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi masyarakat luas dan menambah pemahaman mengenai pentingnya pengamalan Pancasila dalam berbangsa dan bernegara dalam membangun kesejahteraan bangsa.

Palangka Raya, 16 November 2018

 

Penulis