Thursday, September 30, 2021

Laras Bahasa


·         Laras Bahasa adalah kesesuaian antara bahasa dan pemakaiannya. Dalam hal ini berbagai laras, seperti laras iklan, laras lagu, laras ilmiah, laras ilmiah popular, laras feature, laras komik, laras sastra (yang terdiri dari laras cerpen, laras puisi, laras novel, dsb). Setiap laras memiliki cirinya dan gayanya tersendiri. Setiap laras dapat disampaikan secara lisan atau tulisan dan dalam bentuk formal, semi-formal, atau nonformal. Oleh karena itu, dalam menulis kita harus menguasai berbagai laras agar tepat mengenai sasaran.

·         Laras ilmiah harus selalu menggunakan ragam formal. Hal ini lah yang membedakan laras ilmiah dan laras lainnya. Persyaratan di atas mengakibatkan bahwa laras ilmiah harus menggunakan:

1.      Penggunaan kata sapaan dan kata ganti yang resmi, seperti Saudara atau Anda.
2.      Penggunaan istilah bagi bidang tertentu dan tidak boleh digunakan bentuk fatis (sih, kok, dong, dan sebagainya).
3.      Penggunaan imbuhan harus lengkap.
4.      Penggunaan kata sambung (konjungsi) harus jelas dan logis.
5.      Penggunaan fungsi yang lengkap (artinya, kalimat harus merupakan kalimat yang lengkap).
·         Karya sastra merupakan ekspresi diri yang dibuat oleh pengarang yang dihasilkan dari imajinasi pengarang. Hasil karyanya merupakan hasil rekaannya sendiri berdasarkan realitas di sekelilingnya. Oleh karena itu, seorang penyusun karya sastra disebut seorang pengarang. Seorang pengarang merangkaikan realitas kehidupan dalam sebuah tulisan.
·         Karya tulis ilmiah merupakan hasil rangkaian fakta yang merupakan hasil pemikiran, gagasan, peristiwa, gejala dan bahan informasi menjadi sebuah karangan yang utuh. Oleh karena itu, penyusun atau pembuat karya ilmiah disebut dengan penulis. Penulis akan merangkaikan berbagai fakta dalam sebuah tulisan.
·         Realistis berarti peristiwa yang diceritakan merupakan hal yang benar dan dapat dengan mudah dibuktikan kebenarannya, tetapi tidak secara langsung dialami oleh penulis. Data realistis dapat berasal dari dokumen, surat keterangan, press release, surat kabar atau sumber bacaan lain.
·         Faktual berarti rangkaian peristiwa atau percobaan yang diceritakan benar-benar dilihat, dirasakan, dan dialami oleh penulis.
·         Karya ilmiah memiliki tujuan dan khalayak sasaran yang jelas. Sehingga aspek komunikasi tetap memegang peranan utama, sehingga penyampaian yang komunikatif tetap harus dipikirkan. Selain itu penulis karya ilmiah juga menyampaikan hasil penelitiannya sehingga dapat meyakinkan pembaca akan kebenaran hasil yang telah ditemukan penulis di lapangan. Sebuah karya ilmiah harus secara jelas menyampaikan pesan kepada pembacanya.
·         Berikut ini merupakan persyaratan bagi sebuah tulisan dianggap sebagai karya ilmiah:
1.      Karya ilmiah menyajikan fakta objektif secara sistematis atau menyajikan aplikasi hukum alam pada situasi spesifik.
2.      Karya ilmiah ditulis secara cermat, tepat, benar, jujur, dan tidak bersifat terkaan. Dalam pengertian jujur terkandung sikap etika penulisan ilmiah, yakni penyebutan rujukan dan kutipan yang jelas.
3.      Karya ilmiah harus disusun secara sistematis,. Setiap langkah direncanakan secara terkendali, konseptual, dan procedural.
4.      Karya ilmiah menyajikan rangkaian sebab-akibat dengan pemahaman dan alasan yang indusif yang mendorong pembaca untuk menarik kesimpulan.
5.      Karya ilmiah mengandung pandangan yang disertai dukungan dan pembuktian berdasarkan suatu hipotesis.
6.      Karya ilmiah ditulis secara tulis, artinya karya ilmiah hanya mengandung kebenaran factual sehingga tidak akan memancing pertanyaan yang bernada keraguan. Penulis ilmiah tidak boleh memanipulasi fakta, tidak boleh bersifat ambisius dan berprasangka, serta penyajiannnya tidak boleh bersifat emotif.
7.      Karya ilmiah bersifat ekspositoris atau pemaparan. Jika pada akhirnya timbul kesan argumentative dan persuasive, hal itu ditimbulkan oleh karena penyusunan kerangka karangan yang cermat. Pembaca dibiarkan mengambil kesimpulan sendiri berupa pembenaran dan keyakinan akan kebenaran karya ilmiah tersebut.
·         3 Ciri Karya Ilmiah
1.      Harus tepat dan tunggal maknanya, tidak ramang nalar atau mendua makna. Contohnya adalah tidak banyak, kira-kira, banyak, sedikit.
2.      Harus secara tepat mendefinisikan setiap istilah, sifat, dan pengertian yang digunakan agar tidak menimbulkan karacuan atau keraguan.
3.      Harus singkat, berlandaskan ekonomi bahasa.
·         Ketentuan struktur atau format karangan merupakan kesepakatan sebagaimana tertuang dalam International Standardization Organization (ISO). Publikasi yang tidak mengikuti ketentuan yang tercantum dalam ISO memberikan kesan bahwa publikasi itu kurang valid sebagai terbiatan ilmiah.
·         ISO 5966 Menetapkan forma karya ilmiah terdiri atas:
1.      Judul
2.      Nama penulis
3.      Abstrak
4.      Kat  kunci yaitu definisi dari kata-kata
5.      Pendahuluan yang berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penulisan.
6.      Inti Tulisan yang berisi dari metode, hasil dan pembahasan.
7.      Kesimpulan dan saran
8.      Ucapan terima kasih
9.      Daftar pustaka.
·         Kosa kata adalah setiap bahasa yang memiliki perbendaharaan kata. Kosa kata adalah sejumlah kata yang bersifat dinamis dan digunakan oleh penuturnya untuk berkomunikasi, bekerjasama, dan mengidentifikasikan diri
·         Kosakata adalah semua kata yang terdapat dalam sebuah bahasa yang dikuasai oleh seseorang atau kata-kata yang digunakan oleh segolongan orang dari lingkungan yang sama dan digunakan dalam satu bidang ilmu pengetahuan yang disusun secara alfabetis disertai dengan batasan dan keterangannya.
·         Penutur melakukan pilihan atas kata-kata yang ingin digunakannya, bergantung pada berbagai faktor sosiologis yang melingkupinya. Seorang penutur menggunakan bahasanya untuk berkomunikasi, ia memilih dari kosakata yang dimilikinya sesuai dengan kepentingannya pada saat itu.
Masalah pilihan kata berkaitan dengan 4 hal berikut ini:
1.      Pilihan kata mencakup pengertian penggunaan kata-kata untuk menyampaikan suatu gagasan, pembentukan kelompok kata yang tepat, dan pemilihan gaya yang paling tepat untuk suatu situasi.
2.      Pilihan kata merupakan kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan.
3.      Pilihan kata merupakan kemampuan untuk menemukan kata yang sesuai situasi dan nilai rasa yang dimiliki oleh kelompok sasaran.
4.      Pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya mungkin oleh penguasaan sejumlah besar kosa kata atau perbendaharaan kata bahasa itu.
·         Ketepatan Pilihan kata berkaitan dengan kesanggupan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan yang tepat pada imajinasi pembaca atau pendengar seperti apa yang dipikirkan atau dirasakan oleh penulis atau pembicara.
·         Kesesuaian Pilihan Kata berkaitan dengan penggunaan kata untuk mengungkapkan gagasan dengan cara mencocokan dengan kesempatan dan lingkungan yang dihadapi.
·         Untuk dapat melakukan pelaksanaan ketepatan dan kesesuaian pilihan katak, seseorang harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam:
1.      Kata umum dan kata kahusus. Kata khusus adalah kata yang mengungkapkan makna secara lebih jelas. Kata khusus digunakan untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca dan membangkitkan sugesti dalam diri pembaca. Misalnya berjalan perlahan-lahan dengan tertatih ; orang miskin dengan gelandangan.
Kata umum adalah
2.      Kata Indria merupakan kata yang berkaitan dengan pancaindera. Kata ini menyatakan pengalaman yang diserap oleh pancaindera seperti penglihatan, pendengaran, peraba, perasa, dan penciuman. Kata Indria membantu kelancaran penulisan deskripsi secara akurat.
3.      Kata formal, semi formal, dan nonformal. Penggunaan kata ini berkaitan dengan siapa yang menjadi pembaca dan pendengar. Misalnya penggunaan kata ganti saya, aku, atau gue sangat bergantung pada situasi dan kepada siapa kita berbicara.
4.      Kata popular dan kata ilmiah : Ada sejumlah kata yang digunakan dalam komunikasi ilmiah misalnya dalam pertemuan resmi, pengajaran. Umumnya, kata-kata ilmiah ini diserap dari bahasa asing. Ada yang dicari dari padanan katanya dalam bahasa Indonesia, dan ada yang disesuaikan dengan struktur kata bahasa Indonesia.
5.      Jargon : Jargon adalah kata-kata teknis dalam suatu bidang ilmu tertenu dan seringkali bertumpang tindih dengan pengertian istilah. Jargon adalah bahasa atau kata yang khusus sekali sehingga harus diikuti oleh penjelasan arti kata tersebut. Misalnya operasi ketupat, dan operasi zebra.
6.      Kata percakapan : Bahasa percakapan tidak selalu identik dengan bahasa nonformal. Kata percakapan hanya digunakan dalam ragam lisan. Perbedaan laras jurnalistik dan laras iklan dari laras-laras lain adalah kedua laras ini menyajikan ragam lisan dalam bentuk ragam tulis. Akibatnya ada banyak kata percakapan yang digunakan dalam bentuk ini. Misalnya tapi seharusnya tetapi, bisa seharusnya dapat.
7.      Kata slang : Kata slang adalah kata-kata percakapanyang menjurus kea rah nonstandard yang disusun secara khas, seperti bahasa prokem atau bahasa gaul. Misalnya penggunaan bahasa benci untuk benar-benar  cinta. Kata slang mempunyai kelemahan yaitu hanya sedikit yang bertahan dan selalu menimbulkan ketidaksesuaian. Biasanya kata ini dibuat oleh anak muda.
8.      Idiom : bukan hanya peribahasa. Idiom adalah pola-pola bahasa/frase yang menyimpang dari kaidah dan makna bahasa yang umum dan makna gabungannya tidak dapat diterangkan melalui makna kata pembentuknya. Contoh, makan hati, banting tulang.
·         Pilihan kata sangat berkaitan pada laras yang dipilih dan pada tujuan penulisan. Karena setiap kata memiliki medan makna dengan corak, nuansa dan kekuatan yang berbeda-beda.
·         Kata adalah satuan tata bahasa terkecil yang bebas dan mempunyai makna. Bebas artinya satuan bahasa itu dapat berdiri sendiri tanpa terikat pada satuan bahasa yang lain. Wujud satuan itu bisa sebuah kata dasar, misalnya uang, kamu, hanya, yang, kursi. Dan dapat pula berupa satuan turunan, seperti terpaksa, peserta, berjuang, perjuangan, disebabkan.
·         Istilah adalah kata atau gabungan kata yang secara cermat mengungkapkan makna, konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas dalam bidang ilmu tertentu.
·         Hal yang membedakan kata dengan istilah adalah:
1.      Kata bersifat polisemantik artinya dapat memiliki banyak makna. Sedangkan istilah bersifat monosemantik artinya hanya memiliki satu arti. Contoh, kata asam. Sebagai kata asam berarti ‘masam seperti rasa cuka’, ‘menaruh rasa tidak senang’, atau ‘nama pohon’. Sedangkan sebagai istilah, asam bermakna ‘persenyawaan air dan oksida’.
2.      Kata terikat pada konteks artinya makna bergantung pada konteksa dan dapat berubah akibat konteksnya. Sedangkan istilah tidak bergantung pada konteks, maknanya bebas konteks, makna yang sama diperoleh pada saat berdiri sendiri maupun pada saat diletakkan dalam kalimat. Contoh kata jalan akan berubah jika diterapkan pada kalimat, ‘rumah saya di jalan Bendi’, ‘Jalan-jalan di Jakarta penuh lubang’, ‘saya jalan dari tempat kos ke kantor saya’, ‘kalau jala-jalan di Bali harus punya banyak uang’.
3.      Kata terikat pada konotasi sosial, sedangkan istilah tidak.
4.      Kata bersifat sangat loka, artinya kata terikat pada budaya tertentu. Sedangkan istilah bersifat internasional, artinya sedapat-dapatnya, bentuknya tidak jauh berbeda dari bentuk istilah dalam bahasa lain.
Penggunaan istilah terjadi melalui beberapa proses:
1.      Proses adopsi yaitu kata asing diambil langsung dan mejadi bahasa Indonesia (contohnya: bank, helm, unit, radio).
2.      Proses adaptasi yaitu menyesuaikan bahasa asing kedalam struktur bahasas Indonesia. Contohnya sistem, idealis, kolera, kubik.
3.      Proses terjemahan yaitu mencari padanannya dalam bahasa Indonesia. Contoh, segitiga-triangle, terpadu-integrated, jajak pendapat-poling, memantau-monitor.
Penggunaan istilah sering menjadi kata kunci dalam sebuah tulisan. Istilah menandai asal atau sumber bidang dari sebuah tulisan. Dengan penggunaan istilah tertentu pembaca akan menyesuaikan diri dengan materi yang tersaji dan dapat mengikuti proses yang dijelaskan dalam pedoman pembentukan istilah yang dikeluarkan oleh pusat bahasa.

No comments:

Post a Comment