·
Laras Bahasa
adalah kesesuaian antara bahasa dan pemakaiannya. Dalam hal ini berbagai laras,
seperti laras iklan, laras lagu, laras ilmiah, laras ilmiah popular, laras
feature, laras komik, laras sastra (yang terdiri dari laras cerpen, laras
puisi, laras novel, dsb). Setiap laras memiliki cirinya dan gayanya tersendiri.
Setiap laras dapat disampaikan secara lisan atau tulisan dan dalam bentuk
formal, semi-formal, atau nonformal. Oleh karena itu, dalam menulis kita harus
menguasai berbagai laras agar tepat mengenai sasaran.
·
Laras ilmiah
harus selalu menggunakan ragam formal. Hal ini lah yang membedakan laras ilmiah
dan laras lainnya. Persyaratan di atas mengakibatkan bahwa laras ilmiah harus
menggunakan:
1.
Penggunaan kata
sapaan dan kata ganti yang resmi, seperti Saudara atau Anda.
2.
Penggunaan
istilah bagi bidang tertentu dan tidak boleh digunakan bentuk fatis (sih, kok,
dong, dan sebagainya).
3.
Penggunaan
imbuhan harus lengkap.
4.
Penggunaan kata
sambung (konjungsi) harus jelas dan logis.
5.
Penggunaan fungsi
yang lengkap (artinya, kalimat harus merupakan kalimat yang lengkap).
·
Karya sastra
merupakan ekspresi diri yang dibuat oleh pengarang yang dihasilkan dari
imajinasi pengarang. Hasil karyanya merupakan hasil rekaannya sendiri
berdasarkan realitas di sekelilingnya. Oleh karena itu, seorang penyusun karya
sastra disebut seorang pengarang. Seorang pengarang merangkaikan realitas
kehidupan dalam sebuah tulisan.
·
Karya tulis
ilmiah merupakan hasil rangkaian fakta yang merupakan hasil pemikiran, gagasan,
peristiwa, gejala dan bahan informasi menjadi sebuah karangan yang utuh. Oleh
karena itu, penyusun atau pembuat karya ilmiah disebut dengan penulis. Penulis
akan merangkaikan berbagai fakta dalam sebuah tulisan.
·
Realistis
berarti peristiwa yang diceritakan merupakan hal yang benar dan dapat dengan
mudah dibuktikan kebenarannya, tetapi tidak secara langsung dialami oleh
penulis. Data realistis dapat berasal dari dokumen, surat keterangan, press
release, surat kabar atau sumber bacaan lain.
·
Faktual berarti
rangkaian peristiwa atau percobaan yang diceritakan benar-benar dilihat,
dirasakan, dan dialami oleh penulis.
·
Karya ilmiah
memiliki tujuan dan khalayak sasaran yang jelas. Sehingga aspek komunikasi
tetap memegang peranan utama, sehingga penyampaian yang komunikatif tetap harus
dipikirkan. Selain itu penulis karya ilmiah juga menyampaikan hasil
penelitiannya sehingga dapat meyakinkan pembaca akan kebenaran hasil yang telah
ditemukan penulis di lapangan. Sebuah karya ilmiah harus secara jelas
menyampaikan pesan kepada pembacanya.
·
Berikut ini
merupakan persyaratan bagi sebuah tulisan dianggap sebagai karya ilmiah:
1.
Karya ilmiah
menyajikan fakta objektif secara sistematis atau menyajikan aplikasi hukum alam
pada situasi spesifik.
2.
Karya ilmiah
ditulis secara cermat, tepat, benar, jujur, dan tidak bersifat terkaan. Dalam
pengertian jujur terkandung sikap etika penulisan ilmiah, yakni penyebutan
rujukan dan kutipan yang jelas.
3.
Karya ilmiah
harus disusun secara sistematis,. Setiap langkah direncanakan secara
terkendali, konseptual, dan procedural.
4.
Karya ilmiah
menyajikan rangkaian sebab-akibat dengan pemahaman dan alasan yang indusif yang
mendorong pembaca untuk menarik kesimpulan.
5.
Karya ilmiah
mengandung pandangan yang disertai dukungan dan pembuktian berdasarkan suatu hipotesis.
6.
Karya ilmiah
ditulis secara tulis, artinya karya ilmiah hanya mengandung kebenaran factual
sehingga tidak akan memancing pertanyaan yang bernada keraguan. Penulis ilmiah
tidak boleh memanipulasi fakta, tidak boleh bersifat ambisius dan berprasangka,
serta penyajiannnya tidak boleh bersifat emotif.
7.
Karya ilmiah
bersifat ekspositoris atau pemaparan. Jika pada akhirnya timbul kesan
argumentative dan persuasive, hal itu ditimbulkan oleh karena penyusunan
kerangka karangan yang cermat. Pembaca dibiarkan mengambil kesimpulan sendiri
berupa pembenaran dan keyakinan akan kebenaran karya ilmiah tersebut.
·
3 Ciri Karya
Ilmiah
1.
Harus tepat dan
tunggal maknanya, tidak ramang nalar atau mendua makna. Contohnya adalah tidak
banyak, kira-kira, banyak, sedikit.
2.
Harus secara
tepat mendefinisikan setiap istilah, sifat, dan pengertian yang digunakan agar
tidak menimbulkan karacuan atau keraguan.
3.
Harus singkat,
berlandaskan ekonomi bahasa.
·
Ketentuan
struktur atau format karangan merupakan kesepakatan sebagaimana tertuang dalam
International Standardization Organization (ISO). Publikasi yang tidak
mengikuti ketentuan yang tercantum dalam ISO memberikan kesan bahwa publikasi
itu kurang valid sebagai terbiatan ilmiah.
·
ISO 5966
Menetapkan forma karya ilmiah terdiri atas:
1.
Judul
2.
Nama penulis
3.
Abstrak
4.
Kat kunci yaitu definisi dari kata-kata
5.
Pendahuluan yang
berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penulisan.
6.
Inti Tulisan
yang berisi dari metode, hasil dan pembahasan.
7.
Kesimpulan dan
saran
8.
Ucapan terima
kasih
9.
Daftar pustaka.
·
Kosa kata adalah
setiap bahasa yang memiliki perbendaharaan kata. Kosa kata adalah sejumlah kata
yang bersifat dinamis dan digunakan oleh penuturnya untuk berkomunikasi,
bekerjasama, dan mengidentifikasikan diri
·
Kosakata adalah
semua kata yang terdapat dalam sebuah bahasa yang dikuasai oleh seseorang atau
kata-kata yang digunakan oleh segolongan orang dari lingkungan yang sama dan
digunakan dalam satu bidang ilmu pengetahuan yang disusun secara alfabetis
disertai dengan batasan dan keterangannya.
·
Penutur
melakukan pilihan atas kata-kata yang ingin digunakannya, bergantung pada
berbagai faktor sosiologis yang melingkupinya. Seorang penutur menggunakan
bahasanya untuk berkomunikasi, ia memilih dari kosakata yang dimilikinya sesuai
dengan kepentingannya pada saat itu.
Masalah
pilihan kata berkaitan dengan 4 hal berikut ini:
1.
Pilihan kata
mencakup pengertian penggunaan kata-kata untuk menyampaikan suatu gagasan,
pembentukan kelompok kata yang tepat, dan pemilihan gaya yang paling tepat
untuk suatu situasi.
2.
Pilihan kata
merupakan kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan
yang ingin disampaikan.
3.
Pilihan kata
merupakan kemampuan untuk menemukan kata yang sesuai situasi dan nilai rasa
yang dimiliki oleh kelompok sasaran.
4.
Pilihan kata
yang tepat dan sesuai hanya mungkin oleh penguasaan sejumlah besar kosa kata
atau perbendaharaan kata bahasa itu.
·
Ketepatan
Pilihan kata berkaitan dengan kesanggupan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan
yang tepat pada imajinasi pembaca atau pendengar seperti apa yang dipikirkan
atau dirasakan oleh penulis atau pembicara.
·
Kesesuaian
Pilihan Kata berkaitan dengan penggunaan kata untuk mengungkapkan gagasan
dengan cara mencocokan dengan kesempatan dan lingkungan yang dihadapi.
·
Untuk dapat
melakukan pelaksanaan ketepatan dan kesesuaian pilihan katak, seseorang harus
memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam:
1.
Kata umum dan
kata kahusus. Kata khusus adalah kata yang mengungkapkan makna secara lebih
jelas. Kata khusus digunakan untuk memberikan informasi yang akurat kepada
pembaca dan membangkitkan sugesti dalam diri pembaca. Misalnya berjalan
perlahan-lahan dengan tertatih ; orang miskin dengan gelandangan.
Kata umum adalah
2.
Kata Indria
merupakan kata yang berkaitan dengan pancaindera. Kata ini menyatakan
pengalaman yang diserap oleh pancaindera seperti penglihatan, pendengaran,
peraba, perasa, dan penciuman. Kata Indria membantu kelancaran penulisan
deskripsi secara akurat.
3.
Kata formal,
semi formal, dan nonformal. Penggunaan kata ini berkaitan dengan siapa yang
menjadi pembaca dan pendengar. Misalnya penggunaan kata ganti saya, aku, atau
gue sangat bergantung pada situasi dan kepada siapa kita berbicara.
4.
Kata popular dan
kata ilmiah : Ada sejumlah kata yang digunakan dalam komunikasi ilmiah misalnya
dalam pertemuan resmi, pengajaran. Umumnya, kata-kata ilmiah ini diserap dari
bahasa asing. Ada yang dicari dari padanan katanya dalam bahasa Indonesia, dan
ada yang disesuaikan dengan struktur kata bahasa Indonesia.
5.
Jargon : Jargon
adalah kata-kata teknis dalam suatu bidang ilmu tertenu dan seringkali
bertumpang tindih dengan pengertian istilah. Jargon adalah bahasa atau kata
yang khusus sekali sehingga harus diikuti oleh penjelasan arti kata tersebut.
Misalnya operasi ketupat, dan operasi zebra.
6.
Kata percakapan
: Bahasa percakapan tidak selalu identik dengan bahasa nonformal. Kata
percakapan hanya digunakan dalam ragam lisan. Perbedaan laras jurnalistik dan
laras iklan dari laras-laras lain adalah kedua laras ini menyajikan ragam lisan
dalam bentuk ragam tulis. Akibatnya ada banyak kata percakapan yang digunakan
dalam bentuk ini. Misalnya tapi seharusnya tetapi, bisa seharusnya dapat.
7.
Kata slang :
Kata slang adalah kata-kata percakapanyang menjurus kea rah nonstandard yang
disusun secara khas, seperti bahasa prokem atau bahasa gaul. Misalnya
penggunaan bahasa benci untuk benar-benar
cinta. Kata slang mempunyai kelemahan yaitu hanya sedikit yang bertahan
dan selalu menimbulkan ketidaksesuaian. Biasanya kata ini dibuat oleh anak
muda.
8.
Idiom : bukan
hanya peribahasa. Idiom adalah pola-pola bahasa/frase yang menyimpang dari
kaidah dan makna bahasa yang umum dan makna gabungannya tidak dapat diterangkan
melalui makna kata pembentuknya. Contoh, makan hati, banting tulang.
·
Pilihan kata
sangat berkaitan pada laras yang dipilih dan pada tujuan penulisan. Karena
setiap kata memiliki medan makna dengan corak, nuansa dan kekuatan yang
berbeda-beda.
·
Kata adalah
satuan tata bahasa terkecil yang bebas dan mempunyai makna. Bebas artinya
satuan bahasa itu dapat berdiri sendiri tanpa terikat pada satuan bahasa yang
lain. Wujud satuan itu bisa sebuah kata dasar, misalnya uang, kamu, hanya,
yang, kursi. Dan dapat pula berupa satuan turunan, seperti terpaksa, peserta,
berjuang, perjuangan, disebabkan.
·
Istilah adalah
kata atau gabungan kata yang secara cermat mengungkapkan makna, konsep, proses,
keadaan, atau sifat yang khas dalam bidang ilmu tertentu.
·
Hal yang membedakan
kata dengan istilah adalah:
1.
Kata bersifat
polisemantik artinya dapat memiliki banyak makna. Sedangkan istilah bersifat
monosemantik artinya hanya memiliki satu arti. Contoh, kata asam. Sebagai kata
asam berarti ‘masam seperti rasa cuka’, ‘menaruh rasa tidak senang’, atau ‘nama
pohon’. Sedangkan sebagai istilah, asam bermakna ‘persenyawaan air dan oksida’.
2.
Kata terikat
pada konteks artinya makna bergantung pada konteksa dan dapat berubah akibat
konteksnya. Sedangkan istilah tidak bergantung pada konteks, maknanya bebas
konteks, makna yang sama diperoleh pada saat berdiri sendiri maupun pada saat
diletakkan dalam kalimat. Contoh kata jalan akan berubah jika diterapkan pada
kalimat, ‘rumah saya di jalan Bendi’, ‘Jalan-jalan di Jakarta penuh lubang’,
‘saya jalan dari tempat kos ke kantor saya’, ‘kalau jala-jalan di Bali harus
punya banyak uang’.
3.
Kata terikat
pada konotasi sosial, sedangkan istilah tidak.
4.
Kata bersifat
sangat loka, artinya kata terikat pada budaya tertentu. Sedangkan istilah
bersifat internasional, artinya sedapat-dapatnya, bentuknya tidak jauh berbeda
dari bentuk istilah dalam bahasa lain.
Penggunaan istilah terjadi melalui
beberapa proses:
1.
Proses adopsi
yaitu kata asing diambil langsung dan mejadi bahasa Indonesia (contohnya: bank,
helm, unit, radio).
2.
Proses adaptasi
yaitu menyesuaikan bahasa asing kedalam struktur bahasas Indonesia. Contohnya
sistem, idealis, kolera, kubik.
3.
Proses
terjemahan yaitu mencari padanannya dalam bahasa Indonesia. Contoh,
segitiga-triangle, terpadu-integrated, jajak pendapat-poling, memantau-monitor.
Penggunaan istilah sering menjadi kata
kunci dalam sebuah tulisan. Istilah menandai asal atau sumber bidang dari
sebuah tulisan. Dengan penggunaan istilah tertentu pembaca akan menyesuaikan
diri dengan materi yang tersaji dan dapat mengikuti proses yang dijelaskan
dalam pedoman pembentukan istilah yang dikeluarkan oleh pusat bahasa.
No comments:
Post a Comment